Anak Baik

 Anak Baik

creepypasta indonesia


Ini adalah kisah seorang ibu dan anak yang tinggal di sebuah rumah sewa sederhana. Mereka bernama Lesti dan Sandi.
Lesti, sebagai seorang singel parent. Lesti berjuang keras untuk menghidupi dirinya sendiri serta anak lelaki satu-satunya tersebut.
Namun pada suatu titik, Lesti mulai merasakan tekanan dalam hidup. Lesti lebih sering meninggalkan Sandi sendirian yang masih berumur 6 tahun tersebut.
Sandi yang merasa sudah terbiasa ditinggal pergi ibunya, dia melakukan pekerjaan dapur dan rumah seorang diri.
"Aku akan menjadi anak baik sampai ibu pulang seperti biasa" pikir Sandi.
Bagaimana pekerjaan dapur dilakukan oleh seorang anak kecil sendirian? Sebenarnya Sandi membeli makanan dan memanaskannya kembali. Setidaknya cuma sekedar memanaskan makanan di oven tidak terlalu sulit dilakukan oleh anak seumuran dengannya.
Setelah persiapan makan malam selesai, Sandi menunggu kedatangan ibunya. Lesti sering pulang larut dan jarang memasak seperti yang sudah-sudah.
Tidak lama kemudian Lesti pulang. Namun Lesti sedang dalam keadaan tidak sehat. Wajah Lesti sangat pucat, ketika dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam, Lesti muntah.
Sandi menduga ini bakalan terjadi. Dia dengan cekatan membersihkan muntahan ibunya sembari berkata "Ibu mabuk lagi? Kenapa setiap pulang ibu selalu begini sih"
Lesti berhenti muntah namun ketika dia mendengar nasihat dari seorang anak kecil seperti Sandi. Lesti merasa kesal lalu dia menampar pipi anaknya sembari berteriak "KAU PIKIR AKU KELUAR MALAM-MALAM BEGINI KARENA SIAPA HAH? UNTUK SIAPA HAH? JADI ANAK KECIL JANGAN BANYAK BACOT!"
Lesti belum merasa amarahnya tersalurkan dengan baik. Lesti menarik tangan Sandi lalu melemparkannya ke meja sehingga makanan cepat saji di atasnya tertumpah ke wajah Sandi.
Sandi menjerit kepanasan tapi itu tidak membuat Lesti merasa iba. Tanpa ragu, dia menendang anaknya berulang kali sembari mengeluarkan sumpah serapah kepada anak yang dilahirkan dengan susah payah seorang diri tersebut.
Sandi menekuk badannya seperti seorang bayi dalam kandungan sembari berkata dengan nada lirih "Maafkan aku bu. Aku janji jadi anak baik! Aku janji jadi anak baik! Jangan pukul aku lagi!"
Lesti menghentikan tendangannya lalu dia memalingkan wajahnya.
"Sandi. Bereskan semua sampah disini. Aku sudah makan diluar. Berulang kali aku harus mengatakan ini, jangan pernah membuat makanan apapun untukku. Aduh, kepalaku..."
Lesti berjalan sempoyongan dan memasuki kamarnya sembari membanting pintu dengan kuat.
Sandi masih dalam posisi yang sama dengan tubuh gemetar. Sandi berusaha keras untuk berdiri kembali. Dengan sudah payah, akhirnya Sandi berhasil berdiri.
Sandi tersenyum lalu dia membereskan semua yang berantakan akibat ulah Ibunya sendiri.
"Tidak apa kok. Selama aku menjadi anak baik. Ibu tidak akan meninggalkan diriku. Ya, itu pasti" pikir Sandi.
Keesokan malamnya, Lesti pulang ke rumah namun dia bersama dengan seorang lelaki berwajah mengerikan.
"Oi bocah. Kenapa kau diam saja? Cepat ambilkan bir untukku" kata Lelaki tersebut.
Lesti terlihat sedang mengulum benda keras lelaki tersebut sembari memandang tajam kepada Sandi.
"Ba-baik!" Kata Sandi dengan wajah pucat.
Sandi merasa sangat ketakutan. Namun dia berusaha untuk menuntaskan apa yang dia suruh. Sandi harus menjadi anak baik atau dia akan diusir oleh ibunya.
Lesti dan lelaki tersebut bersetubuh di ruang keluarga dengan mengabaikan keberadaan Sandi.
Suara desahan mereka menggema di rumah kecil tersebut.
Sandi berusaha untuk terbiasa dengan suasana baru di dalam rumahnya tersebut.
Sandi duduk di atas kursi belajar dan mulai membuat PR untuk esok hari.
Mungkin karena fokus yang terlalu dalam, Sandi tidak mendengar apapun. Sehingga tanpa ia sadari, sebuah pukulan pada pipinya membuat Sandi terhempas dari kursinya.
Sandi merasa sakit yang tidak biasa. Pukulannya lebih kuat dari yang sudah lama di terima oleh Sandi.
Mata Sandi terbuka lebar dan dia melihat seorang lelaki tanpa busana terlihat sedang emosi.
"OI BOCAH! KENAPA KAU DIAM SAJA KALAU AKU MEMANGGIL MU? APA TELINGAMU PEKAK?" teriak lelaki berwajah seram tersebut.
"Ma..maafkan... Ak-"
Lelaki tersebut menendang tepat ke wajah Sandi sehingga dia menjerit kesakitan.
Lesti masih terbaring lemas tanpa busana di ruang keluarga.
"Sayang... Biarkan anak itu. Ayo kita lanjut mainnya..." Kata Lesti dengan cemberut.
"Cih. Seandainya ibumu tidak menarik. Kau pasti akan habis" kata lelaki tersebut.
Lelaki tersebut menarik rambut Sandi sehingga dia terangkat setara dengan tinggi lelaki tersebut.
"Bereskan sedikit lukamu. Dan pergi bawakan aku rokok. Sekarang!" Kata Lelaki tersebut dengan kesal.
Setelah itu, Sandi pergi keluar untuk mencari toko yang masih buka 24 jam sehari untuk membelikan rokok dengan uang sakunya sendiri.
Keesokan paginya, Sandi ingin pergi ke sekolah. Lesti masih tertidur dengan tanpa busana dan dipenuhi bau tidak sedap bagi Sandi. Sandi tidak melihat lelaki itu, sepertinya dia sudah pergi.
Sandi mengambil selimut dan membalutkan ke tubuh Ibunya dan kemudian mencium keningnya.
Seminggu telah berlalu, Lesti sering membawa lelaki asing ke dalam rumah nya. Sandi sudah terbiasa dengan tamu pria ibunya. Sandi sudah menyiapkan beberapa keperluan yang mungkin dibutuhkan selama aktifitas malam ibunya dan tamu pria tersebut.
Pada suatu hari, Lesti mulai menghentikan pemberian uang saku kepada Sandi. Sandi harus mendapatkan uang sendiri sembari menjajakan es lilin kepunyaan warung langganannya. Hasil yang dia peroleh dibagi dua. Setidaknya Sandi bisa membeli makanan sehari-hari.
3 hari kemudian, Lesti mulai bersikap aneh. Lesti sering melihat ke luar melalui jendela atau pintu.
Besoknya, Lesti menghampiri Sandi yang sudah bersiap untuk pergi ke sekolah.
"Sandi. Kamu masih menjadi anak baik bukan?"
"Iya. Aku akan selalu jadi anak baik"
"Lalu maukah kamu melakukan sesuatu untuk ibumu ini?"
"Tentu saja boleh. Aku kan anak baik"
Lesti tersenyum lalu dia menggendong Sandi menuju ke halaman belakang. Sandi merasa terkejut dan senang. Sandi sudah lama tidak digendong oleh ibunya seperti ini.
Ketika mereka sampai ke sebuah tempat sampah ukuran sedang. Lesti memasukkan Sandi dengan paksa. Sandi mengeluh karena sakit namun Lesti tidak memperdulikan keluhan Sandi dan terus memaksa anaknya untuk pas ke dalam tempat sampah.
Kini Sandi sudah masuk secara penuh ke tempat sampah. Seluruh tubuh Sandi terasa sakit dan gatal mulai tersebar ke seluruh tubuhnya.
"Ibu... Aku akan... Jadi anak ... Baik... Aku akan disini sampai ibu melepaskan ak-"
Lesti menutup tempat sampah dan mengganjalnya dengan dua atau tiga batu bata.
Hari demi hari. Lesti membiarkan anaknya di dalam tempat sampah tersebut. Lesti sepenuhnya sudah mengabaikan Sandi, dia bahkan membuang sampah dimana Sandi terjebak.
Di dalam dunia gelap. Sandi terus menggumamkan kalau dia akan menjadi anak baik sampai ibunya melepaskan dirinya.
"Aku akan jadi anak baik"
"Setelah berhari-hari di dalam tempat sampah sempit ini. Aku mulai terbiasa"
"Ibu. Kapan ibu melepaskan aku?"
"Disini gelap. Disini sangat sempit"
"Aku sendirian disini...."
"..."
"..."
"Ibu. Aku akan menjadi anak baik..."
"Jadi kunjungi aku lagi ya..."
Seminggu lagi telah terlewati sejak Sandi di dalam tempat sampah. Lesti terlihat sudah membereskan kamar Sandi.
"Baiklah. Ini akan jadi kamar tamu ku" kata Lesti sembari membawa kantung plastik hitam berisi sampah.
Ketika dia memasuki ruang belakang, Lesti mulai mencium aroma tidak sedap dari tempat sampah tersebut.
-buk
-buk
"Ibu. Kamu kah itu?"
"Buka penutup sampah ini"
"Disini sangat sempit. Tolong ya Bu?"
Lesti tersentak kaget. Lesti terlihat tidak mempercayai apa yang dia dengar. Lesti akhir-akhir ini tidak mendengar suara Sandi namun entah kenapa dia mendengar suara anaknya tersebut.
"Mustahil... Seharusnya anak ini kan..." Pikir Lesti sembari berjalan dengan ragu menuju ke tempat sampah.
Lesti menelan ludahnya. Tangannya gemetar ketika dia melepaskan batu bata yang mengganjal tempat sampah tersebut.
Ketika dia membuka penutup sampah, Lesti melihat sepasang tangan dipenuhi luka dan belatung memegang kepalanya dan menariknya memasuki tempat sampah tersebut.
Entah bagaimana tubuh dewasa memasuki tempat sampah tersebut dengan mudah.
Keberadaan Lesti menghilang dengan sendirinya. Para tetangganya tidak mengetahui keberadaan ibu dan anak tersebut hingga 3 bulan kemudian.
Pemilik rumah ingin membereskan rumah yang ditinggal pergi oleh Lesti dan anaknya.
Ketika dia membuka tempat sampah yang dipenuhi dengan belatung dan lalat besar hijau.
Pemilik rumah tersebut menjerit histeris.
Lesti dah anaknya berada di tempat sampah dengan tubuh patah-patah. Kedua mata mereka terbuka lebar yang kini sudah membusuk hitam.
Bagaimana seorang ibu yang dulunya sayang sama anak menjadi seperti dalam kisah kali ini.
Bagaimana denganmu?

by: Rico Amanda

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.