Ballerina
Ini adalah kisah seorang perempuan yang mendedikasikan hidupnya untuk menekuni hobinya sebagai seorang ballerina. Namanya adalah Maira. Sejak kecil, Maira sudah mengikuti berbagai macam latihan bersama dengan gurunya yang tidak lain merupakan ibu Maira sendiri.
Keluarga Maira dikenal sebagai keluarga yang melahirkan seniman berbakat. Beberapa seniman terkenal merupakan keponakan, kakak, adik Maira sendiri.
Maira kini sudah berusia 30 tahun, namun bakatnya sepertinya mengkhianati usaha keras Maira selama ini. Bakat bukan diwariskan dari orang tua. Orang tua hanya membimbing anaknya untuk menemukan bakat yang anak mereka inginkan.
Di dalam ruang latihan. Maira berjuang keras latihan di depan cermin. Dengan iringan musik lembut, Maira menggerakkan tubuhnya selembut dan elegan yang dia mampu.
Pada gerakan terakhir, Maira tersandung oleh kakinya sendiri dan terjatuh.
"Duh! Sakitnya... " Gumam Maira sembari berusaha untuk berdiri kembali. Dengan bantuan cermin di depannya, Maira berdiri dan berhasil bersandar di cermin latihan tersebut.
"Bakat ya... Aku sudah sering ikut perlombaan balet namun tidak pernah lolos. Dan yang lulus adalah usia lebih muda dariku" gumam Maira dengan sedih.
Tidak lama kemudian muncul dua orang perempuan muda dengan pakaian modis nya. Mereka adalah keponakan Maira yang baru berusia 12 tahun yang bernama Ira dan Ina. Nama lain dari duo balerina itu adalah si angsa kembar.
"Ah Tante Maira. Masih serius latihan lagi? Apakah Tante sudah tidak malu dengan usiamu?" Kata Ira.
"Hahaha. Benar Ira. Di usia Tante merupakan senior kami. Tapi kenyataannya levelnya bahkan jauh dibawah kami. Lucu kali" kata Ina.
Maira hanya tersenyum membalas ucapan pahit dari kedua keponakan nya tersebut.
"Tante. Bisa keluar? Kami mau latihan untuk lomba 3 bulan lagi. Jadi menjauhkan. Takut kami tidak bisa maksimal latihan" kata Ira sembari membukakan pintu ruang latihan.
Maira tidak menjawab, dia membereskan barangnya dan keluar dari ruang latihan.
"Maira. Bisa kita bicara sebentar?"
Maira melihat seorang wanita tua sedang berdiri di dekatnya. Wanita itu merupakan ibu Maira serta nenek dari si kembar tersebut.
Di ruang keluarga, Ibu Maira menyediakan teh hangat dan beberapa makanan ringan di atas meja. Mereka berdua tidak saling bicara. Hubungan anak dan ibu itu sudah mulai renggang. Maira yang egois tidak mau mengikuti saran dari ibunya untuk menemukan bakat lain selain seorang seniman. Maira memang mempunyai bakat sebagai seorang penjual handal. Tidak ada yang lebih baik dari kemampuan menganalisa gerak penjualan darinya. Pada akhirnya Maira membentak ibunya sendiri dan tidak berbicara kurang lebih 3 tahun terakhir.
"Maira. Apakah kamu masih ingin menjadi sebagai seorang ballerina?"
"Hmm! Tentu saja. Tidak peduli apa yang kalian katakan kepadaku. Aku tidak akan meninggalkan tujuan hidupku!"
"Tapi Maira. Usiamu sudah 30 tahun. Dua Minggu lagi kamu sudah berusia 31 tahun. Tidak ada yang mau menerima wanita yang sudah berusia seperti itu. Menyerah lah nak..."
Maira menampar meja sembari berteriak
"KALIAN SEMUA MENGATAKAN ITU KARENA MEMILIKI BAKAT SENI! KALIAN TIDAK PERNAH MEMAHAMI ORANG YANG TIDAK DIKARUNIAI BAKAT DARI ORANG TUANYA!!"
Air mata Maira mengalir dengan derasnya. Maira pergi meninggalkan ibunya dan pergi keluar rumah setelah mengganti pakaiannya.
Dengan mobilnya, Maira jalan-jalan tanpa tujuan. Hingga tanpa ia sadari sudah melakukan perjalanan lebih dari 3 jam. Maira memakirkan mobilnya di sebuah Indomaret.
Maira bersandar di kursi joknya. Maira kembali menangisi nasibnya.
"Seandainya, aku bisa muda lagi..." Pikir Maira. Tiba-tiba sorot lampu menyilaukan mata Maira. Sebuah kendaraan melaju dengan cepat dan menghantam mobil Maira.
Maira sudah melepaskan sabuk pengaman dan terhempas ke belakang bersamaan dengan serpihan kaca.
Wajah Maira tertancap beberapa kaca kecil dan beberapa tulangnya patah karena terhimpit kursi.
Saat Maira sadar, dia sudah berada dalam rumah sakit. Ibu Maira terlihat sedang berbicara dengan seorang dokter.
"... Mimpiku sebagai seorang balerina sudah berakhir..." Pikir Maira. Tubuh Maira dipenuhi perban. Sebagian wajahnya dipenuhi jahitan dan dia tidak bisa merasakan kakinya. Kaki Maira mengalami kelumpuhan sementara karena syok pasca kecelakaan.
Pada saat tengah malam. Maira merasakan panas pada tubuhnya dan pada akhirnya terbangun.
"Panas!! Tunggu aku bisa menggerakkan kakiku? Tapi kenapa?"
Maira tersentak kaget karena dia melihat tubuhnya sendiri masih terbaring di ranjang.
"Apakah aku sudah mati? Tunggu dulu"
Maira duduk di atas dirinya sendiri sembari berpikir dengan keras. Maira pernah mendengar sebuah istilah astral projek. Astral projek mampu mengeluarkan roh dari tubuh sesuka hati mereka. Dalam dunia medis, pelaku terlihat dalam keadaan koma.
Maira tidak menyangka kalau dia bisa melakukan astral projek tanpa ia sadari.
"Jika aku bisa mengeluarkan roh dari tubuhku sendiri? Bagaimana kalau orang lain? Apakah aku bisa berpindah jiwa?"
Maira telah memikirkan sesuatu yang membuatnya bisa mewujudkan mimpinya sedari kecil.
Maira dirawat di rumah sakit selama 3 bulan. Disaat bersamaan sesuai dugaan Maira, si kembar memenangkan lomba itu mengalahkan ratusan peserta.
Di dalam kamar, Maira menuliskan sesuatu pada laptopnya. Maira masih berambisi untuk mewujudkan keinginannya itu. Melalui astral projek, Maira ingin mencari tubuh muda ideal dan berbakat sebagai media jiwanya yang baru.
Maka dari itu, Maira telah menyebarkan rumor astral projek ke berbagai media terkenal. Hasilnya, postingan Maira mendapatkan sambutan hangat dari berbagai maniak supernatural.
Kurang lebih 3 minggu kemudian rumor Maira bisa menggunakan astral projek tersampaikan pada si kembar, Ira dan Ina.
Ira dan Ina memasuki kamar Maira lalu dengan spontan menanyakan apakah rumor yang beredar di media internet adalah kenyataan.
"Tentu saja. Aku bisa menggunakannya. Meskipun aku menderita dulu karena kecelakaan itu" kata Maira sembari tersenyum.
Ira dan Ina terlihat tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Maira. Maira kemudian memberikan cara untuk melakukan astral projek.
Maira memang menggunakan astral projek secara tidak sengaja untuk pertama kali. Namun Maira telah berusaha keras untuk melakukan pemisahan roh dari tubuhnya dan berhasil menemukan triknya.
"Dengar ya. Trik ini tidak semua orang bisa melakukannya. Jika kalian beruntung maka jiwa kalian akan terpisah" kata Maira dengan wajah serius.
"Uwah... Tante Maira beralih dari seniman menjadi supernaturalis " kata Ina.
"Ta-tante! Ajarkan aku cara melakukannya!" Kata Ira.
Ira dan Ina memang tertarik dengan kegiatan supernatural. Tapi diantara keduanya, Ira lebih tertarik.
Maira mengajarkan Ira dengan semampu dia mampu. Setiap malam, Ira terus latihan melakukan astral projek.
Sementara itu, Maira mulai merasakan keanehan pada tubuhnya. Tangannya mulai terasa susah untuk digerakkan.
"Sebentar lagi. Tujuanku akan tersampaikan. Bersabarlah Maira"
Beberapa Minggu kemudian Maira sudah terbaring di ranjang. Seluruh tubuhnya sudah lumpuh.
Anehnya Maira terlihat tidak memperdulikan kondisinya sejak dia mendengar dari Ira sendiri kalau berhasil melakukan astral projek.
Pada suatu malam, Ira disuruh oleh Maira untuk melakukan astral projek secara bersama-sama.
Ira terbaring di tempat tidurnya. Ira memejamkan mata dan fokus memasuki batas kesadaran manusia.
Tidak lama kemudian roh keluar dari tubuh Ira.
"Akhirnya berhasil lagi! Syukurlah. Aku takut kalau dibilang bohong sama Tante Maira. Tapi... Apa Tante memang bisa melakukan astral projek? Atau jangan-jangan dia membual? Pff"
Ira tidak kuasa menahan tawanya. Ira kemudian melayang menelusuri lorong utama dan memasuki kamar Maira. Aira terkejut karena melihat Maira duduk di samping tidurnya dalam bentuk roh.
"Tante memang bisa melakukannya"
"Tentu saja. Aku yang mengajarkan teknik itu kepadamu"
Maira tersenyum kecut lalu dia memasuki kamar Ira. Ira tidak memahami apa yang dilakukan oleh Maira, dia mengikutinya dari belakang.
Maira memandang tubuh Ira tanpa roh tersebut terbaring di tempat tidur.
"Maira. Sudah berapa lama kamu bisa melakukan astral projek?"
"Hmm. Kurang lebih seminggu lalu. Tante tahu? Dengan tubuh ini, aku bisa jalan-jalan malam hari tanpa Omelan dari orang tuaku dan Nenek. Tanpa ku sadari, aku sudah melakukannya berulang kali. Hahaha..."
Maira memegang tubuh Ira kemudian dia menekan perutnya dan terlihat menembus ke perut Ira.
"Tante... Tante dengar tidak?"
"Ira keponakan ku. Menggunakan astral projek keseringan itu bisa mempengaruhi kualitas roh mu"
"Maksud... Tante?"
"Singkatnya, kamu tidak bisa kembali ke tubuh asal mu lagi. Kamu harus menemukan wadah baru. Kebetulan aku sudah bosan dengan tubuhku. Jadi gunakan tubuhku ya..."
Sebelum Ira menyadari apa yang dikatakan Maira. Maira sudah sebagian masuk ke tubuh Ira.
Ira sudah menyadarinya dan dia berusaha menarik tubuh Maira sembari menjerit histeris.
"LEPASKAN TUBUHKU! AKU TIDAK MAU MENGGUNAKAN TUBUH CACAT ITU!! LEPASKAN! LEPASKAN!!!"
Maira sudah proses pemasukan jiwa ke wadah baru, tidak ada yang bisa melakukan pencegahan tersebut terkecuali si pengguna membatalkannya.
Ketika Maira sepenuhnya sudah memasuki tubuh Ira, Ira terhempas menembus dinding dan secara paksa memasuki tubuh Maira.
"Eh serius? Aku... Menjadi... Sampah seperti dia?" Pikir Ira.
Keesokan paginya. Ira terbangun dengan kondisi yang sangat bahagia. Ira terlihat melakukan peregangan sebelum pergi ke sekolahnya.
"Ira. Kamu masih latihan lagi? Ayo kita sapa Tante Maira. Meskipun kita tidak wajib melakukannya. Merepotkan bukan?" Kata Ina.
Ira menghentikan peregangan tubuhnya dan tersenyum dengan riang. Ina tidak mengetahui kenapa adiknya itu lebih riang dari biasanya.
Ira dan Ina memasuki kamar Maira. Mereka melihat nenek dan kedua orangtuanya berdiri memandang Maira.
Kondisi Maira terlihat tidak stabil. Sejak dia bangun, Maira menjerit histeris, dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya lagi. Tanpa Maira sadari, Maira melukai lidahnya hingga terpotong.
Maira tidak bisa berbicara lagi. Maira memandang keponakan nya tersebut. Namun ketika dia melihat Ira, Maira menjerit kembali.
"KEWBALIKAN TUWBUHKU!!! KEWBALIKAN TUWBUKU!!! KEWBALIKAN!!!"
Ira dan Ina keluar dari kamar Maira dan melanjutkan pergi ke sekolahnya.
"Ira. Tunggu dulu! Kenapa kamu semangat kali sih?" Kata Ina sembari mengejar Ira yang langsung berlari dengan sangat senang.
Begitulah, jika kau bermain dengan hal mistis, pastikan berpikir dahulu sebelum bertindak.
Jangan pernah bermain dengan hal mistis tanpa memikirkan efek pada diri sendiri.
Ada yang bisa menggunakan astral projek?
by: Rico Amanda

Creepy and Weird Stuff