Jam Waktu
Jam Waktu
Bagaimana pendapatmu apabila dirimu kembali ke masa lalu? Apa yang akan kau lakukan? Memperbaiki masalah di masa lalu? Apapun keputusanmu, kau harus bisa menerima apapun kosenkuesinya.
Ini adalah kisah seorang pria pegawai swasta biasa yang baru saja selesai pulang kerja. Namanya adalah Vicky.
Ketika memasuki rumah selepas pekerjaan letih, Vicky menyadari ada sesuatu yang ganjal di depan rumahnya.
"Hmm... Sepasang sepatu? Ada orang lain disini?" pikir Vicky sembari mengamati sepasang sepatu yang dipastikan adalah milik seorang lelaki.
Jantung Vicky berdetak dengan kencang. Seluruh tubuhnya gemetar bagaikan terkena sengatan listrik di sekujur tubuhnya.
Selingkuh.
Benar, itulah hasil dari keputusan mendadaknya berdasarkan apa yang dia hadapi saat ini. Saat ini, di dalam rumahnya, istrinya sedang bersama seorang lelaki entah siapa.
Vicky tanpa pikir panjang, dia membuka pintu secara paksa kemudian mengambil sebuah pemukul di kabinet ruang utama.
Memang benar apa yang Vicky takutkan, dia melihat seorang lelaki dengan sweater yang menutupi kepalanya sedang memeluk istrinya.
"MARNI! SIAPA LELAKI BANGSAT ITU?!!"
teriakan Vicky membuat keduanya kaget. Marni terlihat sangat terkejut.
"Ma-mas ... Aku bisa jelasin... Jangan marah ya" kata Marni berusaha untuk tetap tenang.
Lelaki asing itu berhenti memeluk Marni. Anehnya, siapapun yang terpergok selingkuh oleh pasangan seharusnya segera melarikan diri.
Namun lelaki mengenakan sweater dan mengenakan masker berwarna hitam itu malah terlihat ingin berbicara dengan Vicky.
"Akhirnya kamu datang juga. Tenangkan dirimu. Aku bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjad-"
Vicky mengayunkan pemukul tepat ke wajah lelaki tersebut hingga dia terhempas dan menabrak lemari jam dengan cukup kuat.
Vicky merasa sangat puas dengan pukulan pertama telaknya. Lelaki itu terlihat terbaring tidak berdaya.
Marni langsung memeluk Vicky ketika dia ingin melayangkan pukulan telak untuk mengakhiri hidup orang tersebut.
"Mas! Sudah! Tenangkan dirimu! Jangan bunuh dia. Sebenarnya ada alasan di balik semua ini"
Vicky terdiam lalu dia berbalik dan menatap Marni dengan amarah yang masih belum hilang.
"Marni. Beberapa minggu yang lalu. Aku melihat dirimu sedang makan malam bersama dengan seorang lelaki. Aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi aku menduga , orang itu adalah si bangsat ini"
"Eh? Maksud mas, waktu di restoran keluarga itu?
Itu bukan seperti yang kamu pi"
Lagi-lagi, Vicky terbawa emosi. Dia dengan kuat menghantamkan pemukul itu ke dada istrinya sendiri.
Marni memuntahkan darah dan merasakan sakit yang luar biasa. Air matanya mengalir dengan deras. Marni tidak sanggup suara apalagi menjerit karena shock dari serangan mendadak itu.
Vicky tersenyum kecut lalu dia menghantamkan lagi pemukul itu ke kepala Marni. Marni terjatuh bersimbah darah. Tubuhnya masih terlihat kejang-kejang dengan mata tertutup.
Vicky melanjutkan pemukulan itu ke kepala Marni tiga hingga lima kali. Pada pukulan terakhirnya, wajah Marni sudah tidak terbentuk.
Setelah menyadari kalau dia telah membunuh dua orang di dalam rumahnya sendiri. Vicky berniat untuk segera melarikan diri. Namun ketika dia hendak keluar, Vicky merasakan kalau kakinya sedang dipegang oleh sesuatu.
Vicky melihat lelaki asing itu sedang memegang kakinya dengan cukup kuat. Penutup kepala sweater nya terbuka dan maskernya terlihat menggantung sebelah.
Wajah Vicky langsung terlihat sangat terkejut. Ya, dia ngelihat wajah lelaki itu sangat mirip dengan dirinya.
Apa dia memiliki kembaran? Tentu saja tidak. Vicky adalah seorang anak tunggal. Lalu siapa orang yang terlihat sangat mirip dengan Vicky.
"Kau adalah diriku... Mustahil. Kenapa?"
Lelaki yang mirip dengan dirinya itu mengucapkan sebuah kalimat yang akan mengubah segalanya.
"Ambil jam waktu ini. Jangan... Laku...kan... Hal.. yang... sama... lagi..I"
Lelaki tersebut sudah tidak bergerak lagi. Matanya terbuka dengan hidung yang terus mengeluarkan darah segar.
Vicky terduduk lemas. Dia memandang kembali jasad istrinya. Dalam pikirannya, dia telah melakukan hal yang tidak pantas.
Jam waktu yang dipercayakan kepada Vicky adalah kunci untuk mengatasi ini.
"Aku akan kembali ke masa lalu dan mencegah diriku membunuh Marni lagi"
Vicky mengganti baju kantornya dengan kaos dan mengenakan sweater yang mampu menutupi kepalanya serta masker.
Setelahnya, Vicky membawa kedua jasad tersebut ke halaman belakang rumah.
Mulanya, dia menelanjangi jasad lalu memisahkan tubuh sebanyak 48 bagian. Kemudian dia memasukkan potongan tersebut dalam satu karung bekas.
"Baiklah , ini dia!" kata Vicky sembari mengayunkan cangkul ke atas tanah dengan hati-hati. Sesekali dia memperhatikan keadaan sekitar. Halaman rumah belakang vicky terdapat dua atau tiga rumah yang menghimpit samping kiri, kanan dan belakangnya.
Tentunya dia tidak mau kejahatannya bakalan di endus oleh kepolisian dan tetangganya. Lagipula, dia tidak tahu kebenaran akan orang yang sangat mirip dengannya. Ada kemungkinannya, pelaku mengubah wajahnya semirip mungkin dengan Vicky supaya bisa bersenang-senang dengan istrinya.
Lima belas menit telah berlalu. Vicky sudah berhasil menanamkan kedua jasad dengan sukses. Setelah itu, tanpa menghidupkan lampu, Vicky duduk di ruang keluarga dimana kejadian tersebut masih segar dalam ingatannya.
"Jam waktu. Aku pernah mendengar soal ini dari rumor yang bertebaran di dunia maya. Tapi siapa sangka kalau aku memegang alat itu saat ini" gumam Vicky.
Vicky memperhatikan jam tersebut. Jam tersebut memliki keunikan tersendiri. Pada jarum berbentuk tombak berwarna merah kehitaman. Tidak ada angka yang menunjukkan jam melainkan hanya titik berwarna merah.
Di kedua sisi jam terdapat tombol. Tombol sisi kanan terdapat sebuah tulisan reset sedangkan pada sisi kiri tertuliskan wrap.
Jarum jam tidak bergerak, Vicky bisa mengubahnya secara manual namun anehnya suara detik jam terdengar.
"Tidak ada salahnya mencoba bukan?" pikir Vicky. Vicky mengubah jam menjadi 21.30 dimana jam tersebut sesaat setelah dia membunuh istrinya.
Tanpa ragu, Vicky menekan tombol reset dan tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit. Jantung pada dadanya berdetak 3 kali lebih cepat dari biasanya.
Vicky tidak kuasa menahan rasa sakitnya dan akhirnya dia tidak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian, Vicky tidak merasakan sakit pada kepalanya. Detak jantungnya juga kembali sedia kala.
Ketika dia membuka matanya, dia sedang dalam posisi memegang tongkat pemukul yang berlumuran darah. Vicky tersentak kaget karena dia melihat Marni dalam kondisi utuh.
Vicky melepaskan tongkat pemukul tersebut dan melihat tubuh lelaki asing mirip dengannya.
Orang itu masih terbaring tidak sadarkan diri. Vicky menduga saat ini dia masih hidup.
"Oi. Mau sampai kapan kau tertidur... Diriku?!!!" kata Vicky sembari menendang dia dengan sangat kuat.
Orang itu terbangun karena rasa sakit pada tubuhnya kembali dia rasakan.
Orang itu memandang Vicky dengan wajah pucat. Tidak lama kemudian dia melepaskan masker dalam keadaan masih terbaring.
Orang itu bernapas dengan susah payah, pasti pernapasannya terganggu akibat pukulan pada kepala yang cukup parah tersebut.
"Hhhh.... Seperti...nya...ukh! Kau meng...gunakan...jam itu..."
"Benar. Aku sendiri masih tidak bisa mempercayainya..."
"Ka...lau... Begitu... Aku tidak perlu menjelaskannya padamu bukan... Hhhh..."
Vicky memandang orang itu. Kedua mata mereka saling menatap. Dalam pikirannya, dia tidak harus menggunakan jam ini hanya demi istrinya yang selingkuh. Vicky juga menyadari kalau dirinya di masa lalu (?) melakukan hal yang sama.
Tapi sebelum dia memukul Marni, Marni sempat ingin menjelaskan tentang pertemuannya dengan orang lain d restoran keluarga tersebut.
"Baiklah. Aku akan mengulangi waktu ku" kata Vicky. Orang itu tidak menjawab, dia masih memandangi Vicky.
Vicky menyadari kalau orang itu sudah meninggal dunia. Vicky mengambil napas dan kembali mengubur keduanya di halaman belakang rumahnya.
Vicky mencoba menekan kembali tombol reset. Namun tombol itu sangat keras. Vicky tidak mampu menekannya sekuat apapun dia tekan.
"Jadi hanya sekali saja ya? Kalau begitu, jika aku mengulang waktu dengan tombol wrap maka tombol reset ini akan kembali seperti semula?" kata Vicky.
Vicky tertawa kecil karena menyadari apa yang akan dia lakukan setelah ini. Kemudian Vicky mengatur jam dimana dia baru saja pulang kerja.
Tapi ketika dia ingin menekan tombol wrap. Vicky berpikir kembali. Seandainya dia mengulang waktu jauh sebelum orang itu datang ke rumahnya. Dia bisa mencegahnya begitu dia sampai ke masa itu.
Pada akhirnya, dia menyetel waktu 2 jam sebelum kejadian.
Tombol wrap pun di tekan. Vicky kembali' merasakan sakit dan jantungnya berdetak 3 kali lebih cepat.
.....
"Pak Vicky?"
"Pak Vicky?!"
Vicky tersentak kaget karena dia merasakan pundaknya ditepuk cukup kuat.
Vicky melihat seorang perempuan muda yang sekitar berusia 18 tahun memandanginya dengan terheran-heran.
"Santi? Kamu Santi?"
"Tentu saja dong!"
Vicky menyadari kalau dia sedang duduk di meja kerjanya. Santi memegang sebuah map warna coklat yang ingin diserahkan kepadanya.
"Aku kembali ke masa lalu" kata Vicky sembari dengan wajah terkejut.
by: Rico Amanda

Creepy and Weird Stuff