Kabut Harapan

 Kabut Harapan


creepypasta indonesia


Ini adalah kisah seorang pria pengangguran bernama Ridwan. Ridwan pada mulanya merupakan seorang kontraktor bangunan terkenal di beberapa kota besar yang meliputi Jakarta, Borgor dan Medan.
Namun karena Ridwan mengalami penipuan aset investasi, dia kehilangan segalanya. Ridwan tidak sanggup lagi membayar kredit beberapa barang mewah hingga berakhir rumah beserta asetnya disita oleh Bank.
Dengan uang seadanya, Ridwan bersama istri serta kedua anaknya pergi ke kampung halamannya di Solo. Namun nasib malang kian menimpa Ridwan. Rumah sederhana di kampungnya ludes dibakar oleh si merah buas. Semua sisa barangnya habis tanpa sisa.
Istri yang menjadi stress tidak bisa menahan diri lagi. Bersama kedua anaknya, istri Ridwan kembali ke rumah orang tuanya di Pekanbaru.
Kini, Ridwan seorang diri. Menelusuri jalan demi jalan tanpa tujuan. Ketika dia lelah, dengan memanfaatkan trotoar jalan, Ridwan istirahat seadanya.
Suatu hari, ketika Ridwan yang tanpa tujuan menemukan sebuah kepulan kabut tebal pada sebuah jalanan besar kosong. Ridwan tidak tahu berada dimana. Dia tidak peduli kemana kakinya membawa dirinya ke suatu tempat.
"Kabut oh Kabut. Seandainya aku menembus mu apakah aku mendapatkan secercah harapan kembali?" Kata Ridwan dengan wajah bersedih dan stres yang berkepanjangan.
Dengan langkah perlahan-lahan, Ridwan memasuki kabut tebal tersebut. Ridwan berhenti di tengah kabut. Seluruh pandangannya putih keabu-abuan. Tidak ada apapun disana karena memang apa yang di dalam kabut selain kehampaan?
Tidak lama kemudian, Ridwan meneruskan jalannya. Seiring dia memasuki kabut lebih dalam lagi, kabut yang semula tebal kini menipis. Dan pada titik dimana kabut sepenuhnya hilang.
Ridwan terkejut karena dia berada di depan rumah mewahnya. Semua mobil bermerek masih terparkir di halamannya.
Ridwan menampar kedua pipinya. Ridwan merasakan sakit akibat tamparannya sendiri. Ridwan juga baru menyadari kalau dia sedang mengenakan setelan jas berwibawa tidak seperti pakaian lusuh dan penuh lubang di beberapa bagian.
Ridwan melihat pintu rumah terbuka. Dua orang anak perempuan berlari ke arahnya lalu mereka melompat. Dengan cekatan, Ridwan memeluk mereka.
"Papa sudah pulang! Asyik. Kita makan bareng di restoran mewah!" Kata anak perempuan paling tua.
"Umm. Papa juga berjanji mau membelikan boneka beruang sebesar ini!" Kata anak perempuan paling muda sembari membentang tangan kirinya selebar dia mampu.
"Tia dan Tika. Mereka masih dalam keadaan terbaik. Apakah aku kembali ke masa lalu? Ataukah aku hanya bermimpi?" Pikir Ridwan. Ridwan terharu sehingga air matanya mengalir. Kedua putrinya terkejut lalu dengan kompak mereka menenangkan ayah mereka.
Ridwan mendengar suara tawa kecil, dia melihat seorang wanita dengan pakaian bersih sedang berjalan menghampiri mereka bertiga.
"Kamila dia sangat cantik dengan pakaian yang aku berikan kepadanya" pikir Ridwan.
Apa yang Ridwan lihat bukanlah masa lalu, melainkan harapan yang dia inginkan.
Ridwan mengharapkan seandainya dia tidak tergiur dengan uang instan, dia pasti akan tetap bersama dengan keluarga kecilnya.
Ridwan memeluk istri dan kedua anaknya sembari berkata "Syukurlah! Syukurlah! Aku bisa berkumpul dengan kalian kembali! Aku tidak peduli ini mimpi atau kenyataan! Aku akan tetap selalu bersama dengan kalian semua!!"
"Ma-Mas Ridwan kenapa sih? Memangnya Kamu mau pergi?" Kata Kamila dengan heran.
"Eh? Papa mau pergi? Kemana?" Kata Tia
"Aku mau ikut juga!" Kata Tika.
Ridwan tersenyum lalu melepaskan pelukannya.
"Yup. Aku akan membawa kalian bertiga ke luar negeri yang belum pernah dikunjungi? Mau kemana?" Kata Ridwan dengan semangat.
Tia dan Tika saling memandang dengan wajah gembira lalu dengan serentak mereka berteriak "SELANDIA BARU!"
Ketika Ridwan terlihat sangat berbahagia, kabut mulai kembali menebal. Keberadaan Ridwan tidak bisa dilihat dari luar kabut tebal tersebut kecuali memasukinya lebih dalam lagi.
Seminggu kemudian kabut perlahan memudar dan di jalanan besar tersebut terdapat sebuah fenomena aneh.
Pada jalanan aspal, beberapa patung berdiri disana. Patung tersebut tidak bisa dipindahkan karena tertancap ke bumi. Seolah-olah menginsyaratkan untuk mencegah patung tersebut berpindah ke tempat lain.
Pada sekumpulan patung yang sudah mulai berlumut dan rusak, terdapat sebuah patung baru yang masih bersih.
Patung tersebut mirip dengan Ridwan dengan pakaian yang sama dia kenakan selama beberapa bulan di jalanan.
Tidak ada yang mengetahui asal muasal kabut misterius tersebut. Para peneliti berkesimpulan semua patung tersebut merupakan korban dari kabut misterius itu.
Beberapa orang berhasil selamat dari proses pembaruan karena suatu keberuntungan.
Dan orang-orang yang selamat tersebut menyebutnya sebagai Kabut Harapan.

by: Rico Amanda

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.