Menghitung
Ini adalah kisah seorang pegawai negeri yang baru saja selesai minum-minum bersama bosnya. Namanya adalah Tony, seorang teknisi komputer.
"Ha~~ kenapa setiap malam aku harus pulang telat sih? Kenapa Pak bos selalu memilih aku untuk menemani minum-minum?"
Toni mengeluh sembari melanjutkan jalannya menuju ke tempat pemberhentian bus tidak jauh dari warung minuman dimana dia menemani minum-minum bosnya.
"Ya... Mau bagaimana lagi? Aku bersikap seperti ini karena ingin naik gaji. Tapi entah kapan keinginanku terkabulkan ya?" Pikir Tony.
Tony duduk di tempat pemberhentian bus sembari memandang jam tangannya. Tony melihat jam sudah menunjuk pukul setengah sepuluh dan biasanya bus di jam seperti ini yang terakhir.
Jika Tony terlambat sedikit saja, dia mau tidak mau harus kembali ke kantor dan tidur disana.
"Sa..tu... Du..a Ti..ga.. Em..Pat.."
Tony mendengar suara anak-anak sedang menghitung. Toni melihat ada dua orang sedang berdiri di samping palang berhenti bus.
"Li..ma... E..nam..."
Tony mengabaikan anak-anak itu dan memilih bermain dengan smartphonenya.
"Sa..tu... Du..a... Ti..ga.."
Tony mendengar anak-anak itu berhenti pada angka enam kemudian kembali menghitung lagi dari awal.
Tony tidak menaruh curiga kepada anak-anak itu dan terus melanjutkan permainannya.
-Tripple Kill!
-Your Enemies has been slayed!
"Sa..tu... Du..a Ti..ga... Em..pat..."
Anak-anak itu masih terus mengulang hitungannya. Suara anak-anak itu berlaga dengan suara game Tony namun anehnya suara anak-anak itu lebih keras dari game tersebut. Pada akhirnya, Tony menghela napas dan mematikan smartphonenya.
"Dasar. Anak-anak itu berisik amat sih! Dimana orang tua mereka?" Pikir Tony Kesal sembari melihat disekitarnya.
Tony tidak menemukan orang lain selain mereka bertiga di pemberhentian bus itu.
"E..nam... Sa..tu... Du...a Ti..ga"
"Lagi? Apa anak-anak itu tidak bisa menghitung lebih dari enam?" Pikir Tony sembari tersenyum meledek.
Tidak lama kemudian bus yang dinantikan oleh Tony datang. Tony melihat lampu sorot kendaraan mulai terlihat.
Tony bersiap-siap membereskan diri meskipun dia hanya memasukkan Smartphonenya ke sakunya kembali.
Tony berdiri di samping anak-anak itu yang masih terus menghitung ulang setelah hitungan ke enam.
"Sa..tu... Du..a.. Ti..ga.. E..mpat..."
Pada hitungan ke enam, Tony menyambung hitungan anak-anak itu.
"Li..ma... E..nam..."
"Tu..juh... De..lapan... Sembilan..." Kata Tony sembari melirik ke anak-anak tersebut.
Anak-anak itu terhenti lalu mereka berdua memandang Tony. Tony menghentikan hitungannya karena anak-anak itu melihat dengan dingin.
"Apaan sih bansat? Kok jadi seram ya?" Pikir Tony sembari berhenti melirik ke anak-anak tersebut.
Lima detik kemudian anak-anak itu menghitung kembali seperti sebelumnya.
Lampu sorot mulai mendekat. Tony berjalan lebih dekat ke pinggiran jalan.
-BRAAAK
Kendaraan yang melintas bukanlah bus melainkan mobil pribadi dengan kecepatan tinggi menabrak Tony hingga terhempas dekat dengan tempat duduk pemberhentian bus.
Tubuh Tony terlihat kejang-kejang dengan mata terbuka lebar. Dari mulutnya, Tony terus memuntahkan darah.
Pengendara mobil itu keluar dan melihat kondisi Tony yang sudah sekarat.
"Ini bukan salahku! Ini bukan salahku! Kalau saja kau tidak berada di jalur jalanku!!" Kata pengendara itu sembari berlari kembali ke mobilnya dan meninggalkan Tony yang semakin di ujung napasnya.
Setelah kepergian pengemudi kendaraan itu, Tony sudah tidak sadarkan diri.
Anak-anak itu masih berdiri menghadap jalan dan melanjutkan hitunganya.
"Sa..tu.. Du..a.. Ti..ga.. Em..pat.. Li..ma... E..nam... Tu..juh..."
Bus terakhir akhirnya datang dan anak-anak yang menghitung itu berjalan menembus bus tersebut dan terlihat duduk di baris terakhir.
Semua penumpang tidak ada yang melihat anak-anak tersebut. Sopir bus yang tidak melihat seorang penumpang pun kembali melanjutkan jalan busnya.
Keesokan paginya, mobil polisi dan ambulan terlihat berada di pemberhentian bus.
Petugas medis mengakut jasad korban kecelakaan. Polisi masih melanjutkan proses penyelidikan kenapa korban bisa dalam kondisi tersebut.
"Kau dengar tidak?"
"Apanya?"
"Di pemberhentian bus di dekat KFC Marelan itu memakan korban lagi?"
"Eh lagi? Tempat itu selalu terjadi kecelakaan ya... Apa memang benar itu lokasi angker?"
"Benar. Aku dengar dari rumor yang beredar. Disana ada dua orang anak kecil yang menghitung dengan pola aneh"
"Pola aneh?"
"Tiap pada hitungan tertentu, mereka selalu mengulang dari awal. Seolah-olah pada hitungan selanjutnya adalah korban kecelakaan berikutnya"
Begitulah. Jika kau menggunakan jasa bus disana berhati-hatilah. Siapa tahu kau adalah korban berikutnya.
"Sa..tu... Du..a.. Ti..ga... Em..pat... Li..ma... E...nam... Tu..juh..."
by: Rico Amanda

Creepy and Weird Stuff