Rumah Kucing
Kucing adalah makhluk yang lucu bukan? Coba bayangkanlah, mereka memiliki bulu dan warna yang lembut, biarpun gemuk dengan melihat tingkah mereka untuk mencari perhatian tidak dapat dipungkiri betapa bahagianya.
Lalu?
Bagaimana kalau ada sebuah rumah yang menampung kucing telantar?
Ini adalah kisah seorang anak lelaki yang sangat membenci kucing. Namanya adalah Derik, Derik memang dikenal sebagai anak super nakal.
Derik sangat menyukai menjahili kepada orang-orang yang tidak disukainya. Mulai dari anak-anak seusianya hingga orang tua tidak luput dari daftar korbannya.
Selain itu, Derik juga gemar mengerjai kucing-kucing liar. Jika ada kucing yang kehilangan mata, atau patah pada salah satu kakinya maka tidak diragukan lagi bahwa pelakunya adalah Derik sendiri.
Suatu hari ketika pulang sekolah, Derik melihat ada banyak sekali kucing sedang beristirahat di atas tembok batas jalan.
"Asyik! Banyak sekali kucing!" kata Derik dengan sangat semangat. Derik mengambil beberapa batu kerikil kemudian bagaikan pelontar kerikil profesional, Derik membidik satu persatu ke targetnya.
-Duk
"MIAWWW!!"
"Satu kucing K-O!"
-Duk
-Duk
"MIAWWW!!!!"
"Dua kucing kena sekaligus!"
Derik terus melontarkan kerikil ke semua Kucing tersebut tanpa sisah seekor pun.
Namun kucing-kucing yang terluka itu jatuh ke sisi tembok dalam. Derik tidak akan puas sebelum melihat hasil terakhir dari kegiatan tidak beradab tersebut.
Derik menyadari kalau tembok tersebut sudah cukup tua. Derik menduga kalau akan ada celah akibat dinding yang sudah keropos termakan usia.
Derik menyelusuri dinding hingga menemukan sebuah lubang besar yang hanya bisa dilalui oleh anak-anak seperti dirinya.
"Ketemu sih... Tapi di dalam sana banyak sekali rumput. Ah! Masa bodoh!"
Derik meletakkan tas di luar lubang dan memasuki lubang tersebut.
"Udara disini sangat lembab. Pertanda kalau halaman ini tidak pernah terurus lagi" pikir Derik sembari berjalan dengan hati-hati.
Tidak lama kemudian Derik keluar dari padang ilalang liar dan menemukan kucing-kucing yang tidak berdaya tergeletak di tanah basah.
Derik melihat kucing-kucing yang tidak bisa bangun karena syok mendesis marah. Derik tidak memperdulikan itu.
Derik tersenyum dingin kemudian mengambil batu bata dan berjalan sembari bersenandung dengan riangnya.
"La la la la ~~~"
"Hissss!!!!"
-buk
-buk
-buk
Derik melihat kepala kucing berwarna belang hitam putih pecah.
"La la la la ~~~"
"Hii--"
-buk
-buk
-buk
-buk
Derik tanpa ragu menghantamkan batu bata ke kepala kucing-kucing hingga semuanya sudah mati di tangan Derik.
Derik menghela napas kemudian melemparkan batu bata ke padang ilalang liar tersebut.
"Akhirnya selesai juga. Banyak amat ya, sampai 10 ekor. Ya sudahlah. Saatnya pulang"
Ketika Derik ingin kembali, derik melihat kucing berwarna hitam sedang duduk nyantai di batang besat pohon belimbing.
"Hah? Ada lagi?" kata Derik dengan kesal. Tidak lama kemudian beberapa ekor Kucing kelihatan nyantai di akar pohon yang berbeda. Sekilas pohon belimbing itu menjadi taman bermain kucing-kucing tersebut.
Para kucing menatap tajam kepada Derik. Derik mengambil batu bata dan melenpar sembarangan ke pohon tersebut.
Salah satu Kucing terkena lemparan dan terjatuh. Para kucing tersebut melihat sejenak, kucing yang kejang-kejang karena kepalanya pecah lalu akhirnya mati.
Kucing hitam itu berdiri kemudian dia menunjukkan gerak marah yang kemudian di ikuti oleh kucing-kucing lainnya.
"HISSSSSSSSSSSSSSSS!!!!!!!!"
Suara desisan kucing terdengar dengan jelas. Entah kenapa Derik merasakan udara di sekitarnya menjadi sangat dingin.
Derik mendecak kesal lalu pergi meninggalkab tempat tersebut.
Sesampainya di rumah, Derik memasuki kamar dan langsung mengunci pintu. Derik masih merasakan ketakutan tanpa sebab hanya karena desisan kucing-kucing tersebut.
"Sial. Baru kali ini aku ketakutan mendengar suara kucing sialan itu"
Derik mengatut napas kembali kemudian dia mengganti bajunya.
-MIAWWW
Derik tersentak kaget karena mendengar suara kucing di dalam kamarnya.
"Suara kucing? Kok bisa? Apa dia masuk ke kamarku?" pikir Derik.
-MIAWWWW
-MIAWWWW
-MIAWWWW
Suara kucing yang semula satu, kini menjadi ramai. Seolah-olah ada puluhan kucing berada di dalam kamar Derik.
"UWAAAA!!!"
Secara spontan Derik menjerit histeris ketika dia mendengar suara ibunya dari luar pintu.
"Derik sayang? Kamu sudah pulang? Kok gak ucap salam atau apa sih? Kebiasaan" kata ibu Derik dengan nada kesal.
"Aku tidak harus melapor ke kau bukan? Jangan bersikap seperti mamaku! Dasar orang asing tak tahu diri!!" teriak Derik lantang.
"Ta-tapikan... Baiklah. Makan malam sudah siap. Turun ke bawah kalau mau makan..."
Derik mengabaikan apa yang dikatakan oleh ibu tirinya tersebut.
Keesokan harinya, Derik seperti biasa, sepulang sekolah jalan-jalan sejenak untuk mencari pelampiasan amarahnya kemarin.
Derik tiba kembali dimana dia membunuh banyak kucing tersebut.
"Ah benar juga. Disana masih banyak kucing. Saatnya memburu!!" kata Derik dengan semangat.
Derik memasuki kembali halaman melalui lubang yang sama sekali lagi. Derik menyusuri ilalang liar tebal dan berhasil keluar.
Anehnya, Derik tidak menemukan kucing-kucing di pohon belimbing itu. Begitu pula dengan bangkai kucingnya, lenyap begitu saja.
"Kemana mereka? Oi kalian! Keluarlah? Pussy
... Pussy.... Dimana kalian? puss..."
Tidak ada satu ekorpun kucing terlihat. Derik mendecak kesal lalu kembali pulang ke rumah.
Di perkarangam rumah, Derik terkejut karena banyak sekali kucing berkeliaran.
Ibu tiri Derik, sibuk mengusir kucing-kucing tersebut. Namun mereka tidak mau pergi.
"Ah derik. Bantu ibu mengusir mereka. Kalau tidak ... Ibu-- hatchuu!!"
Ibu Derik bersin berulang kali dengan kuatnya. Ketika dia selesai bersin, pada tisunya terdapat noda darah.
"Derik! Hatchuu! Ibu moh- hatcchu!!"
Derik tidak memperdulikan keadaan ibu tirinya dan memasuki rumahnya.
Ibu Derik yang terus bersin pergi meninggalkan rumah tanpa memberitahukan Derik.
Pada jam delapan malam. Ibu Derik belum kembali. Derik dengan kesal, menunggu di ruang makan sembari memikirkan hukuman apa yang pantas untuk ibu tirinya tersebut.
Tidak lama kemudian terdengar ucapan salam dari pintu depan rumah.
"Assalamualaikum.... Derik... Buka pintunya. Ibu tidak membawa kunci"
"Derik...? Derik...? Derika?"
Derik dengan malas membuka pintu dan melihat ibu Derik berdiri memandang dirinya tanpa sepatah katapun.
Ibu Derik memasuki rumah kemudian menghidupkan kompor untuk melanjutkan masak yang tertunda.
"Dasar. Lama amat sih. Kau gagal sebagai ibu rumah tangga! Tidak be-"
Ibu Derik meletakkan sup di depannya tanpa Derik sadari.
"Makanlah sup ini... Cepat..." kata Ibu Derik dengan tatapan mata kosong.
Derik merasa ada yang aneh dengan sikap ibu tirinya sejak dia pergi tadi sore.
"Jangan melihatku seperti itu. Huss! Pergi sana!" kata Derik dengan kesal.
Ibu Derik kembali ke tempat memasak untuk melanjutkan memanasi sup.
Derik mendecak kesal lalu dia memakan sup berisi bakso dan sosis tersebut.
Tiba-tiba Derik terbatuk-batuk karena sesuatu telah nyangkut ke tenggorokannya. Dengan air mata berlinang, Derik berusaha memuntahkan apapun di dalam tenggorokannya.
Setelah berhasil keluar, Derik terkejut. Dia melihat gumpalan bulu berwarna hitam bercampur dengan darahnya.
"Oi Melisa!! Uhuk! Uhuk! Kenapa ada bulu kucing di sup ini?!!"
Derik segera mengambil garpu dan kemudian berlari ke ibu Derik sembari berteriak "dasar ibu tidak becus!!"
Derik menusuk punggung ibunya berulang kali. Namun ibu Derik mengabaikan tusukan garpu dari Derik.
Pada tusukan kesekian kali, ibu Derik berbalik dan Derik menjerit histeris ketika melihat wajah ibu tirinya.
Derik melihat ibu Derik berwajah sama persis dengan kucing hitam di halaman tidak terpakai tersebut.
"Hissss!!!!"
"UWAAAA!!!"
Kucing hitam yang menyerupai ibu tirinya mencakar wajah, badan Derik dengan kukunya yang sangat tajam.
Teriakan Derik di dalam rumah tidak di dengar oleh siapapun. Tidak lama kemudian rumah itu kembali senyap.
Beberapa kucing liar entah darimana memenuhi halaman rumah derik. Ada yang bermain di pohon nangka, di atap rumah dan sebagainya.
Dalam sekejap rumah derik berubah menjadi rumah kucing.
Keesokan paginya, Derik terlihat keluar bersama dengan ibu tirinya tersebut.
"Mama, aku pergi dulu ya..."
"Baik. Hati-hati ya. Ah Derika, hari ini kamu diet daging ya..."
"Eh? Ya sudahlah. Kebanyakan makan daging juga tidak baik. Meow~~~"
"Hahaha benar meow~~"
Apa yang kau saksikan di halaman rumah Derik bukanlah Derik dan Ibu tirinya.
Keduanya sudah berubah menjadi sup daging kemarin malam atau malah tidak.
Lalu siapa mereka?
by: Rico Amanda

Creepy and Weird Stuff