Toko Keinginan

 Toko keinginan


creepypasta indonesia


Ini adalah kisah seorang anak perempuan yang selalu dirudung oleh teman-teman sekelas. Namanya adalah Bunga. Bunga sejak kecil selalu pendiam dan penurut. Maka orang-orang sekitarnya menjadi kesal dan memilih untuk merudung Bunga.
Pada saat SMP , perudungan terhadap dirinya semakin lebih ekstrim. Bunga sering kali mendapatkan luka bakar pada lengan, paha dan wajahnya.
"Bunga. Ya Allah! Kamu kenapa? Kok penuh luka bakar lagi?" Kata ibu Bunga dengan sangat cemas.
Bunga tersenyum lalu dia berkata "Duh ibu. Sudah Bunga bilang tidak apa-apa toh. Ini mah karena Bunga teledor saat kelas tataboga"
Bunga menyadari kalau Ibunya sudah sangat curiga karena setiap hari, Bunga selalu kotor atau dipenuhi luka. Bunga tidak mencemaskan dirinya karena dia sudah terbiasa namun melihat dari perilaku para perudung di dalam kelasnya. Bunga tidak tahu apa yang bakalan dilakukan terhadap ibunya jika mengetahui kebenarannya.
"Yang benar? Bunga tidak dirudung atau apakan?"
"Duh ibu! Tidak mungkinlah. Bunga punya 100 teman loh! 100 teman? Banyak bukan?"
Bunga pergi meninggalkan ibunya yang masih curiga terhadap perilaku putri satu-satunya itu. Ibu Bunga terlihat memikirkan sesuatu sebelum dia melanjutkan membuat makan malam.
Keesokan paginya, wajah Bunga terlihat pucat. Ya, ibunya datang ke sekolah. Semua teman di kelas Bunga memandang tajam kepada Bunga.
"Ah! Hari ini cuaca buruk ya? Aku harap tidak ada kecelakaan atau semacamnya"
Bunga mendengar seseorang mengatakan kalimat cukup mengerikan itu. Bunga melihat diseluruh kelas namun dia tidak mengetahui siapa yang mengatakan kalimat itu.
Tanpa pikir panjang, Bunga meninggalkan kelas dan melihat ibunya sedang berbicara dengan guru di dalam ruang konselong.
Bunga melihat wajah cemas ibunya sembari mengangguk sesekali. Tidak lama kemudian Bunga menyambut ibunya ketika keluar dari luar konseling.
"I-ibu... Bunga..."
Ibu Bunga tidak kuasa menahan nangisnya dan memeluk erat Bunga.
"Bunga. Kenapa kamu melukai dirimu sendiri?"
"Eh? Tidak..."
"Jangan bohong! Ibu mendengar dari beberapa teman sekelasmu. Mereka mengatakan kalau kamu sering ke belakang sekolah dan melukai dirimu sendiri! Bahkan wali kelasmu mengatakan itu!"
Bunga tidak mempercayai apa yang dia dengar. Kenapa semuanya menjadi aneh seperti ini. Padahal nyatanya Bunga sering dilukai oleh semua teman kelasnya.
Bunga ingin menceritakan semuanya namun sang ibu tidak mau mendengarkannya.
"Bunga! Kita akan pergi ke psikiater. Kamu ikut dengan ibu!"
"Ta-tapikan?"
"Tidak ada tapi-tapian! Loh... Dompet ibu kemana?"
Ibu Bunga tidak mau mendengar penjelasan apapun darinya. Ibu Bunga menyuruh dirinya untuk bersiap dan segera kembali ke lantai pertama sekolah untuk mencari dompetnya.
Namun lima menit setelah Bunga kembali. Bunga mendengar suara jeritan seorang siswa.
"Bunga Lestari! Kamu disini rupanya?" Kata guru bahasa Inggris, Yuli.
"Miss Yuli? Ada apa? Suara apa tadi?"
"Bunga dengarkan baik-baik"
Bunga tidak kuasa mendengar apa yang dijelaskan oleh Yuli. Air mata mengalir dengan deras, dia segera belari menuju ke tangga utama.
Bunga menjerit histeris ketika melihat sang ibu terbaring tidak berdaya dengan payung menancap pada lehernya.
"Hahaha. Kalian tidak lihat? Cara wanita itu jatuh saat aku dorong dia?"
"Ya! Lucu sekali!"
"Apa lagi saat tubuhnya masih bergerak ketika lehernya sudah tertembus payung. Pasti sangat menyakitkan~~"
Bunga mendengar apa yang dikatakan oleh beberapa orang dibelakangnya. Bunga melihat tiga orang siswi yang dahulu dekat dengan dirinya tersenyum dingin melihat Bunga.
"Tari, Tia, Veronika? Ini semua ulah kalian?"
Mereka tidak merespon apa yang dikatakan oleh Bunga. Tia mejambak rambut Bunga sembari berkata "ikut kami ke toilet. Yang lain sedang menunggu!"
Sesampai di toilet. Bunga di dorong oleh Tia. Disana Bunga melihat tiga orang lelaki yang sepertinya anak kelas tiga sedang nongkrong di toilet perempuan.
"Kalian bebas melakukan apapun kepada anak ini. Nikmati lah!" Kata Tia.
Bunga berteriak minta tolong. Namun tidak ada yang mau menolongnya. Banyak teman-teman sekelasnya hanya tertawa kecil.
Bunga dikunci di dalam toilet dengan tiga orang kakak kelasnya.
Salah seorang dari kakak kelas berdiri lalu dia tanpa ragu melepaskan celananya dan berkata
"Ikuti apa yang aku katakan! Jika kau mau selamat"
Bunga hanya menangis sembari mengangguk. Di dalam toilet. Bunga dilucuti pakaiannya dan melakukan hubungan intim dengan ketiga kakak kelasnya sembari menahan rasa takut dan sakit pada kemaluannya.
2 jam telah berlalu. Tia membuka pintu toilet dan melihat bunga sudah terbaring dipenuhi dengan bekas peju para lelaki tersebut.
"Ah. Bunga. Pada guru sedang mencarimu. Tapi kami mengatakan kalau kamu terpukul dan mengurung diri di toilet dan melukai dirimu sendiri jadi"
Tia melemparkan pisau lipat ke Bunga yang masih terbaring tidak berdaya.
"Lukai dirimu sendiri. Paham?" Kata Tia dengan wajah sangat mengintimidasi.
Sebelum mereka pergi, tubuh bunga di siram oleh air untuk membersihkan berkas darah dan Peju pada selakangannya.
Tia mengunci toilet dan membuangnya dari jendela. Tia sudah berkerja sama dengan yang lain dan dramapun akhirnya di mulai.
Sesuai skenario, Bunga ditemukan di dalam toilet perempuan dengan dipenuhi oleh luka pada seluruh tubuhnya. Bunga mengikuti apa yang dikatakan oleh Tia dengan baik. Ya, karena dia orang penurut.
Besoknya, Bunga tidak bisa menghadiri pemakaman ibunya sendiri. Itu bukan karena dia tidak mau, melainkan dirinya berada di dalam kamarnya bersama dengan tiga orang kakak kelas.
Mereka menikmati tubuh Bunga beberapa kali. Bunga terdiam dengan tatapan kosong sembari merasakan tubuhnya dinodai.
Bunga kembali ke dunianya ketika biasan cahaya sore menembus melalui jendela. Bunga yang telanjang masih dipenuhi keringat dan peju kakak kelasnya.
"Ah. Sudah sore. Aku harus membuat makan malam"
Bunga pergi ke sekolah seperti biasa. Dia tidak memperdulikan dirinya lagi. Bunga memilih pasrah perlakuan buruk apa lagi terhadap dirinya oleh Tia dan seluruh teman sekelasnya.
"Wahai anak malang disana. Mau mencoba keberuntungan?"
Bunga terhenti dan menoleh ke samping. Bunga tersentak kaget karena melihat seorang kakek berjas abu-abu dengan wajah terbalik.
Di depan kakek aneh itu, terdapat sebuah kota hitam bertuliskan keinginan.
"Kamu cukup menuliskan harapanmu maka apapun itu akan segera terwujud.
"Apapun?"
"Benar apapun. Curahkan semua keinginanmu disini. Maka aku akan mewujudkannya!"
Di dalam pikiran Bunga terpintas semua yang dialami hingga saat ini.
Bunga tersenyum kecil lalu dia mendekati kakek aneh tersebut dan menuliskan keinginannya.
"Hooo. Kamu yakin dengan keinginan itu?"
Bunga mengangguk lalu memasukan ke dalam kotak keinginan.
Tidak lama setelah itu, kakek dan perlengkapannya menghilang dalam sekejap.
"Keinginanmu akan segera terwujud. Hahahaha!"
Suara kakek aneh tersebut terdengar di dalam pikiran Bunga dengan jelas.
"Ya~~ aku tidak terlalu berharap dengan itu sih"
Bunga kembali teringat dengan masa lalu jauh sebelum semuanya terjadi. Sejak awal memasuki SMP, Bunga tidak pernah dirudung lagi. Dia bahkan dekat Tia dengan kawan-kawannya.
Namun sebuah insiden terjadi. Bunga disukai oleh cowo yang sudah lama di incar oleh Tia. Karena orang itu lebih memilih Bunga dibandingkan dirinya.
Tia mulai kesal dan melakukan segalanya untuk membalaskan amarahnya. Mulai dari isu pencurian uang kas, pelacuran keluarga dan sebagainya.
"Tia. Sebenci itukah kamu kepadaku? Padahal aku tidak berniat untuk berkencan dengan orang itu"
Sesampainya di kelas. Semua teman kelasnya memandang dirinya.
"Ah. Ini pembulian harianku..."
Tidak lama kemudian Tia mendekati Bunga. Bunga tersentak kaget dan berjalan mundur. Namun sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Bunga melihat Tia menangis sejadi-jadinya. Teman sekelasnya juga memasang wajah sedih.
"Bunga. Maafkan aku! Maafkan aku! Kami telah berbuat buruk kepada mu selama ini!" Kata Tia sembari memeluk erat Bunga.
Bunga kembali teringat dengan apa yang dia tulis pada kertas keinginan.
-AKU INGIN KEMBALI BERTEMAN DENGAN TIA SELAMANYA-
Bunga tidak mengetahui kalau harapannya akan segera terwujud. Semua teman kelasnya berubah 180 derajat berbanding terbalik dengan selama ini.
Bersama dengan Bunga, Tia berserta tiga kawannya mengakui semua kesalahannya. Semua teman di kelasnya mengikuti semua perkataan Tia karena diancam tidak naik kelas kalau tidak merudung Bunga.
Pada akhirnya beberapa teman kelas dan Tia di skorsing selama 3 bulan. Sisa di dalam kelas Bunga, tidak benar-benar terlibat langsung perudungan Bunga.
3 bulan telah berlalu. Ketika ujian tengah semester semakin dekat. Tia dan yang lainnya kembali.
Bunga dan Tia kembali seperti semula ketika pertama kali bertemu.
Hari-hari bersama dengan Tia, perasaan Bunga perlahan kembali seperti sedia kala.
Suatu hari, Tia dan ketiga kawan secara mendadak tidak masuk kelas. Bunga merasa cemas dan menanyakan kepada wali kelas.
Tia dan kawan-kawannya menghilang tiba-tiba di dalam rumah masing-masing.
"Wahai anak malang. Sudahkah kamu puas dengan keinginanmu?"
Tiba-tiba Bunga berada di jembatan itu.
"Eh? Apa maksudmu? Keman Tia dan yang lainnya?"
"Sudah saatnya kamu mengingat kembali apa yang terjadi"
Kepala Bunga terasa sangat sakit. Bunga menjerit histeris lalu dia melihat dirinya saat di belakang sekolah.
Tia terus menendang Bunga hingga akhirnya Bunga tewas. Tia dan lainnya ketakutan dan segera pergi.
"Aaaaaa...... Aku sudah mati sejak saat itu? Jadi ...."
"Kamu berada di alam orang yang sudah meninggal. Kami mengizinkan dirimu untuk mewujudkan keinginan terbesar mu"
Bunga terduduk lemas sembari terus menjerit histeris. Tangisannya sangat keras namun tidak seorangpun mendemgar kecuali tiga orang berwajah terbalik itu.
Sementara itu, kejahatan Tia akhirnya terbongkar. Bersama dengan teman sekelasnya diberhentikan dari sekolah seminggu setelah kematian Bunga.
Meskipun dalam mimpi, Bunga akhirnya bisa berteman dengan Tia seperti dulu.

by: Rico Amanda

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.