Topeng

creepypasta indonesia



 Ini adalah kisah seorang siswi pelajar menengah bernama Desi. Desi tinggal bersama ibu serta neneknya di sebuah komplek perumahan di Lombok.

Suatu hari ketika dia pulang dari sekolah, Desi melihat seorang wanita duduk sambil merapatkan lututnya ke dada. Wanita itu memakai topeng Ipin yang sudah kusam. Rambutnya juga terlihat dipenuhi lumpur yang sudah mengering.
Desi sering melihat wanita bertopeng aneh itu setiap kali dia melewati jalan ini menuju ke rumahnya.
"Assalamualaikum nek" sapa Desi sembari menyalami neneknya. Desi kini hanya tinggal bersama neneknya karena suatu alasan ibunya tidak pulang ke rumah selama seminggu lebih.
Alasan ibunya pergi dari rumah karena dikejar-kejar oleh mantan suaminya yang merupakan ayah kandung Desi. Mereka sudah pisah sejak Desi memasuki SD.
"Nenek. Apakah papa masih sering datang ke mari?"
"Benar. Tapi sayang ibumu tidak kunjung pulang. Padahal dia mengatakan kalau dia bersembunyi sementara selama beberapa hari. Kemana dia ya sekarang?"
Desi tidak bisa mengatakan apapun selain hanya duduk diam di rumah sembari berharap ibunya segera pulang. Perihal soal Ayahnya, Desi sudah melaporkan ayahnya atas tuduhan penguntit. Tapi Ayahnya tidak pernah menyerah, dia sering berkunjung ke rumah atau mengirim hadiah untuk dirinya serta neneknya.
Pada saat makan malam, Neneknya menceritakan ada rumor wanita bertopeng aneh sedang berkeliaran di dekat komplek perumahan mereka. Neneknya menganjurkan agar Desi berhati-hati ketika pulang ke rumah.
Keesokan harinya, Desi melewati jalan biasa dan menemukan wanita bertopeng itu duduk dengan posisi yang sama.
Desi berjalan melewatinya sembari melirik sedikit wanita tersebut. Tanpa dia sadari, kakinya tersandung oleh batu dan terjatuh.
"Duh. Aku lupa jalan ini penuh lubang dan batu... Sial..." Kata Desi sembari berdiri dan merapikan seragamnya karena terkena debu.
"Suara itu? Kamu Desi kan?"
Desi mendengar suara seorang wanita yang terasa tidak asing di telinganya. Desi menyadari kalau suara itu berasal dari wanita bertopeng Ipin itu.
"Maaf? Ibu mengenal saya?"
Wanita itu langsung berdiri sehingga Desi melompat mundur ke belakang karena sangat kaget dan ketakutan.
"Desi. Sudah lama tidak jumpa. Ini Mama mu . Masa kamu lupa dengan ibu sendiri?"
"Ma..ma? Ini beneran Mama?"
Wanita itu mengangguk lalu dia mendekati Desi. Dia merasa wajah Desi sembari mengucap syukur berulang kali.
"Mama. Mama kenapa tidak pulang-pulang? Dan kenapa Mama memakai topeng Ipin itu?"
Wanita itu menghentikan meraba wajah Desi lalu dia meraba topengnya sendiri.
"Seminggu yang lalu. Ada sekumpulan anak yang menyarankan Mama untuk bermain dengan menggunakan topeng Ipin ini. Tapi ketika selesai bermain, topeng ini tidak bisa dilepas karena ada semacam lem menempel pada kulit wajah Mama"
"Gawat dong! Lalu kenapa Mama tidak menelepon atau pulang ke rumah?"
Wanita itu menggelengkan kepalanya dan menunjukkan ada lubang kecil pada mata Ipin.
"Dengan lubang sekecil ini, penglihatan Mama sangat terbatas. Mama sering terjatuh karenanya..."
Desi memang melihat kondisi baju dan rambutnya yang dipenuhi lumpur kering. Sepertinya apa yang dikatakan wanita mengaku Mamanya adalah kebenaran.
Desi mengulurkan tangannya sembari berkata "Apa boleh buat. Ayo kita pulang, Nenek mengkhawatirkan Mama loh"
Wanita itu mengangguk kemudian memegang tangan Desi. Mereka berjalan secara pelan-pelan tanpa berbicara sedikitpun.
"Oh ya, kenapa Mama tidak meminta bantuan kepada orang lewat?"
"Mama pernah meminta bantuan. Tapi semuanya malahan menjauhi Mama"
"Ah benar. Jadi rumor itu adalah mama sendiri ya"
Desi kembali terdiam sembari terus menuntun wanita itu pulang ke rumahnya.
Desi masih meragukan apa yang dikatakan oleh wanita mengaku sebagai Mamanya itu.
Ketika mau sampai, wanita itu mengatakan sesuatu yang aneh.
"Hari ini kamu berulang tahun ya?"
"Eh?"
"Selamat ulang tahun nak. Maaf Mama tidak menyiapkan sesuatu untuk ulang tahunmu"
Desi berhenti dan melepaskan tangannya dan menjauhi wanita bertopeng itu.
"Ulang tahun Desi tidak hari ini. Yang berulang tahun ini adalah Nenek"
"O-oh ya? Kalau begitu Kita harus pulang segera"
Desi menggelengkan kepalanya lalu dia menelan ludahnya sendiri.
Desi menatap tajam kepada wanita itu dan berkata "Lepaskan topeng itu?"
"Mama sudah mencobanya. Tapi topeng ini tidak mau lepas..."
Desi tidak mau mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu. Desi segera memegang topeng itu dan menariknya sekuat tenaga.
Wanita itu menjerit kesakitan. Desi tidak memperdulikan jeritan wanita tersebut.
"SAKIT! SAKIT! DESI HENTIKAN!! KAMU MENYAKITI WAJAH MAMA!!!"
"DUH DIAM! AKU TIDAK PERCAYA SEBELUM TOPENG INI LEPAS!!!"
Wanita itu terus meronta sembari memukul dan mencakar Desi. Pada akhirnya Desi melepaskan Wanita itu. Wanita itu tidak bisa menahan tubuhnya dan terjatuh.
Disaat bersamaan sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi dan melindas wanita bertopeng itu.
Cipratan darah mengenai baju dan wajah Desi. Desi terdiam dengan wajah pucat.
"Tidak. Ini bukan salahku. Wanita itu tidak bisa berdiri dengan normal" pikir Desi sembari bersiap untuk pergi.
Pengemudi truk itu sempat turun namun karena melihat kondisi wanita itu sudah terluka mengerikan. Dia melarikan diri memasuki hutan pinus.
-kring kring kring
Desi mengenal suara dering telepon itu. Suara itu sering digunakan oleh Mamanya pada pengingat telepon.
"Mustahil. Suara dering ini... Mirip sekali punya Mama" kaya Desi dengan suara sangat pelan.
Desi berhenti dan mendekati jasad wanita yang masih menempel pada ban besar truk tersebut. Topeng yang digunakan oleh wanita itu sudah rusak sebagian sehingga memperlihatkan matanya terbuka lebar.
Smartphone yang digunakan oleh wanita itu berada tidak jauh dari lokasi kejadian.
Wajah Desi pucat pasih. Seluruh tubuhnya berkeringat. Desi terduduk lemas sembari memandang layar smartphonenya.
-------
Incoming call
NENEK
-----------
Di saat bersamaan, Nenek Desi terlihat menelepon dengan wajah cemas.
"Teleponnya selalu menyambung. Tapi tidak pernah diangkat. Dimana kamu Ratih..."
-kring kring kring


by: Rico Amanda

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.