Wanita Penghisap
Wanita penghisap
Ini adalah kisah di sebuah kota kecil yang berada di Provinsi Sumatera. Kota tersebut memiliki banyak sekali mitos yang benar maupun tidak.
Pada setiap malam, seluruh kota tertutupi oleh kabut yang cukup tebal. Banyak yang warga berpikir kalau kabut tersebut berasal dari pembakaran hutan di pulau Kalimantan demi membangun sebuah ibu kota baru.
Namun jika demikian kenapa kabut selalu muncul ketika malam saja? Bukankah kabut akan selalu ada setiap saat selama angin menghembuskan asap ke udara bukan?
Begitulah, para tetua disana memiliki pendapat yang berbeda. Mereka menyebut kabut tebal itu berasal dari seorang wanita yang hanya mengenakan pakaian dalam saja berkeliaran di seluruh kota.
Siapa gerangan wanita tersebut. Aku akan menceritakan kisahnya padamu. Apabila kau berasal dari kota ini, berhati-hatilah.
11. 1 - Kabut Tebal dan Wanita Mesum
Seorang pegawai swasta bernama Hartono mengaku pernah bertemu dengan seorang wanita mesum yang berkeliaran sembari menghela napaa berat.
Wanita mesum itu hanya mengenakan pakaian dalam dengan jalan bungkuk. Matanya terlihat kosong, air liur selalu menetes sehingga setiap jalur yang dia lewati selalu berbau busuk.
"Sumpah, aku menemukan wanita aneh itu!" seru Hartono kepada pihak kepolisian. Anggota kepolisian yang mengurus adminitrasi pengaduan warga hanya tertawa mengejek.
"Hah! Anda pasti ngibul lagi bukan? Anda tidak mengenakan cimeng atau semacamnya kan???" kata Polisi tersebut dengan nada nyindir.
"Sumpah pak! Demi tuhan! Aku berjumpa dengannya!!" kata Hartono dengan wajah terlihat sangat ketakutan.
Petugas polisi tersebut terlihat mulai tertarik dengan apa yang di ceritakan oleh Hartono.
"Baiklah! Sekarang Anda membuatku penasaran. Kenapa Anda terlihat sangat ketakutan seperti itu?"
Hartono duduk kembali dengan posisi semula. Hartono membuka mulutnya dan berkata "Apakah bapak menyadari ada yang aneh pada mulutku?"
Pihak kepolisian tersebut menghela napas da kemudian dia beranjak dari tempat duduk dan memperhatikan dengan teliti mulut Hartono.
"Tidak ada yang aneh sih. Hanya lidahmu yang terlihat hitam. Anda sering makan aneh-aneh?"
Hartono menyarankan Polisi tersebut memperhatikan lebih teliti lagi.
Memang benar, setelah dilihat dengan baik lidah Hartono bergerak tidak alami. Perlahan lidah itu mendekat.
Mata polisi tersebut tidak berpaling dari apapun. Dia hanya fokus memperhatikan lidah Hartono.
Tiba-tiba seekot makhluk hitam keluar dari mulut Hartono.
"Astagfirullah! Lintah! Lidahmu itu lintah yang besar???" teriak polisi tersebut sembari melompat ke belakang.
Polisi yang lain dan tamu yang sedang mengadukan keluhan mulai terlihat panik.
Lintah tersebut tidak bisa keluar secara penuh bagaikan lidah yang menjulur ke luar.
"Hahaha. Lwidah liwntah ini berawsal dari wanita mesum itu. Dia keluar dari dalam kabut tebal dan langsung menciumiku. Ciumannya panas dan tubuhku merespon dengan alami. Twapi tubuhku seperti tersedot oleh ciuman tersebut. Karena panik, aku mendorongnya dengan keras dan pergi keluar dari dalam kabut sialan itu..."
Lintah tersebut menggeliat ke kanan dan kiri seolah-olah sedang mengamati semua yang ada di dalam ruangan tersebut. Beberapa saat kemudian lintah tersebut masuk kembali dan bertingkah layaknya lidah normal pada umumnya.
Hartono menutupi mulutnya kembali dan dia mengatur napasnya.
"Tolong aku. Lakukan sesuatu. Tiap malam aku tanpa ku sadari selalu berada di wanita mesum tersebut dan menciumiku" kata Hartono dengan wajah lesuh.
Semua polisi yang ada berkumpul satu sama lain dan mendiskusikan masalah aneh nan mengerikan tersebut. Hingga lima belas menit kemudian mereka sampai pada satu keputusan.
"Kami akan menangkap wanita itu. Siapa tahu dia terlibat dengan ilmu hitam aneh dan berbahaya"
11.2 - Ciuman mematikan
Malamnya, beberapa anggota kepolisian mulai melakukan pengamanan rumah Hartono. Para warga dan tetangga sedang menyaksikan semua peristiwa aneh Hartono hingga akhir.
Tepat pada pukul 23 malam. Hartono terlihat tertidur pulas. Namun tidak lama kemudian dia menggeliat kepanasan. Padahal ac yang dia nyalakan cukup dingin.
Hartono terbangun dan melepaskan semua pakaiannya hingga hanya mengenakan celana dalam.
Dua orang petugas yang menjaga dari dalam adalah seorang wanita muda bernama Sari dan seorang lelaki paruh baya bernama Rudi.
Sari tersentak kaget dan melempar gelas ke arah Hartono sembari berteriak "Lupakan wanita mesum itu! Kau sendiri juga mesum! Mau apa kau membuka semua pakaianmu?"
Rudi mencoba menenangkan Sari. Sari merasa tidak menerima apa yang dilihat tadi. Namun Sari menyadari sesuatu yang aneh.
Hartono terlihat linglung. Hartono tidak menyadari keberadaan mereka lagi.
"Panas! Panas! Panas!" teriak Hartono sembari menurunkan suhu hingga sangat dingin.
Rudi mencoba menenangkan Hartono namun Hartono tidak memberikan respon. Karena kesal Rudi menampar pipi Hartono hingga Hartono tersungkur di ranjangnya.
"Anu... Pak Rudi. Bapak sepertinya kelewatan" kata Sari sembari berusaha mendekati Hartono.
Tiba-tiba Hartono kembali berdiri. Pelipis mata dan pipinya biru karena tamparan Rudi dan matanya terantuk oleh dinding sebelum terjatuh ke ranjangnya.
Hartono segera berlari keluar dan merusak pintu kamarnya. Entah bagaimana Hartono bisa merusak pintu tersebut dengan sekali hantaman tubuhnya sendiri.
Para warga yang setia menanti kasus tersebut, menjerit karena Hartono dengan hanya mengenakan celana dalam dan darah mengetes dari wajahnya berlari di jalanan penuh kabut tebal.
Rudi segera keluar dari rumah dan menyerukan agar semua polisi yang menjaga area luar mengejar Hartono.
Jalanan yang penuh dengan kabut tebal, membuat mereka kesusahan mencari jejak Hartono.
Sari melihat ada noda darah yang mengering. Sari menyarankan ke semua untuk mengikuti jejak darah ini karena sumbernya berasal dari luka Hartono.
300 meter dari rumah Hartono. Hartono terlihat sedang berdiri di depan wanita yang dia sebutkan tadi di kantor.
Wanita itu berambut panjang, kulit sawo matang dan terlihat sedikit menghitam. Dia memang hanya mengenakan pakaian dalam oplosan berwarna merah muda.
Wanita tersebut memeluk Hartono sembari tersenyum lebar. Dia kemudian mencium Hartono.
"Wow. Dia benar-benar menciumnya?" pikir Sari dengan wajah sangat pucat. Selama proses tubuh Hartono terlihat kejang-kejang.
Rudi segera mengarahkan pistol ke wanita tersebut dan menembaknya. Wanita tersebut menjerit dan dari mulutnya keluar lintah besar yang sama dengan dari mulut Hartono.
Wanita tersebut segera berlari sembari tertawa terbahak-bahak memecahkan keheningan malam berkabut.
Hartono yang berdiri tegak kini terjatuh. Rudi dan polisi yang bertugas tersentak kaget. Tubuh Hartono kurus kering dengan mata putih dan mulut terbuka lebar.
Hartono pernah menyebut kalau ada sesuatu yang tersedot. Ternyata darah Hartono sendiri yang disedot hingga kering melalui ciuman.
Lintah yang ada di mulut Hartono juga mengering, mereka menduga kalau lintah itu adalah sebagai penghubung dari lintah induk ke lintah inang korbannya.
Sejak saat itu, koran dipenuhi ilustrasi wanita aneh tersebut dengan sebutan 'wanita penghisap'
11.3 - teror dan pencegahan
"Eh? Kau di cium oleh wanita? Meskipun kau itu wanita juga???" kata Ika sembari menggoyangkan tubuh Mira dengan kuat.
Mira terlihat jengkel lalu dia mendorong Ika dengan sedikit kesar sembari berkata "aku tidak memiliki ketertarikan pada itu loh..."
Ika terlihat cemas lalu dia melihat beberapa gambar dari sosial medianya.
"Mira. Untuk memastikan saja. Kau tidak suka sama sejenis kan?"
"Hah? Tentu saja tidak! Aku mau punya pacar tapi belum nemu yang cocok saja!"
"Lalu apa wanita yang mencium mu berada di antara kabut tebal?"
Mira mengerutkan dahinya lalu dia berkata
"Hmm. Benar. Tapi dia mengenakan baju seperti orang kantoran"
Ika terlihat sangat terkejut. Lalu Ika berkata "serius? Kau tidak bertemu dengan wanita penghisap ini?"
"Apaan sih..." kata Mira sembari melihat sebuah ilustrasi wanita berambut panjang, mata putih dan mulutnya mengeluarkan lintah besar menjijikan.
"Uwah... Daripada seram. Dia terlihat menjijikan!" kata Mira dengan wajah masam.
Ika mengelah napas dan bersyukur kalau teman dekatnya itu tidak bertemu dengan wanita penghisap melainkan hanya wanita random yang mabuk tidak jelas.
Mira melihat cermin di samping meja kerjanya.
"Ika. Apa aku terlihat pucat?"
"Ah. Jika aku perhatikan dengan benar, wajahmu terlihat pucat"
Mira menghela napas kemudian berpikir untuk tidak diet ekstrim lagi.
Sepulang kantor, Mira mengajak Ika untuk ke tempat barang elektronik.
Ika terlihat terheran-heran kepada Mira yang membeli AC untuk kedua kalinya.
"Mira. Mau kau pasang dimana lagi AC tuh?"
"Eh? Itu... AC rumahku tidak cukup dingin. Aku sering kepanasan..."
"Hah? Padahal itu AC terdingin yang ku sarankan loh?"
Mira tidak mau mendengar apa yang dikatakan oleh Ika dan membeli AC keduanya tersebut.
Keesokan harinya, Mira tidak datang ke kantor. Ika mulai mencemaskan keadaan Mira dan berinisiatif ke rumahnya.
Sesampai di depan rumah Mira, Mira melihat dua AC terpasang dan masih menyala.
"Gila nih anak. Dua AC sekaligus hidup. Apa gal kedinginan ya?" pikir Ika sembari memasuki halaman rumah Mira.
Ketika Ika mau mengetuk pintu, Ika merasakan sensasi dingin. Ika menyadari kalau pintu rumah tidak terkunci.
Ika membuka pintu dan serta merta udara super dingin keluar. Ika tidak tahan dengan kondisi dingin ekstrim ibi dan segera mencari remot dan mematikan kedua AC nya.
Meskipun di matikan, udara dingin masih terasa untuk beberapa menit ke depan. Sembari menahan dingin, Ika mencari Mira ke kamarnya.
"Ya tuhan Yesus!!! Mira!!!" teriak Ika.
Di atas kasur, Mira terlentang tanpa busana dengan tubuh mengering. Matanya memutih dan mulutnya terbuka. Di dalam mulut terdapat hewan mirip lintah juga mengering di dalam.
Tanpa pikir panjang, Ika menelepon polisi dan ambulan. Tidak lama kemudian polisi yang bertugas menangani kasus ini, Rudi menyelidiki kasus manusia mengering kesekian kalinya selama 6 bulan terakhir.
"Kondisi korban selalu sama..." kata Rudi sembari menutup kedua mata dan mulut Mira.
"Pak polisi. Bagaimana ini bisa terjadi? Siapa yang membunuh temanku?!" kata Ika sembari menangis.
Sari langsung menenangkan Ika dan meminta izin untuk keluar kepada Rudi.
Di halaman rumah, Sari dan Ika duduk di kursi yang terbuat dari kayu jati.
"Kamu mau tahu siapa yang membunuh temanmu itu?" kata Sari.
"Tentu saja. Seandainya aku tahu, aku mungkin bisa membunuhnya" kata Ika dengan sangat marah.
Sari tersenyum lalu dia menyerahkan sebuah kertas yang berisi hati-hati dengan wanita penghisap lengkap dengan ilustrasinya.
"Jadi benar dia pelakunya? Kalau itu... Suatu keberuntungan kalau aku bisa membunuhnya" kata Ika.
Sari menceritakan semua informasi yang dia ketahui kepada Ika. Seorang polisi tidak boleh menceritakan hasil penyeledikan kepada orang luar namun Sari menceritakannya tanpa memikirkan kondisi mengancam karirnya.
Wanita penghisap memiliki penampilan yang selalu berubah atau lebih tepatnya pakaiannya. Aslinya, Wanita penghisap hanya mengenakan pakaian dalam atau jika di telusuri awal mula kemunculan di kota X , dia tidak mengenakan pakaian apapun.
"Aku tidak tahu legenda wanita penghisap sampai sedetail itu..." kata Ika.
Sari memegang kedua bahu Ika sembari berkata "ada satu cara agar dia tidak meneror kota ini lagi"
"Benarkah? Bagaimana caranya?" kata Ika dengan cukup penasaran.
"Banyak makan garam sehingga darahmu mengandung kadar garam cukup tinggi. Itu memang berbahaya, tapi jika mau selamat lakukan nasehatku. Tidak perlu langsung banyak makan , kamu bisa menyicilnya tiap hari" kata Sari.
Garam memang dapat membunuh hewan tertentu seperti pacet dan lintah. Jadi saran Sari tidak salahnya di coba bukan?
11.4 wanita penghisap
Atas saran dari polwan Sari. Ika mulai memakan banyak makanan mengandung garam setiap hari.
Tiga minggu kemudian. Ketika Ika berjalan di antara kabut tebal. Sari melibat bayangan seorang wanita sedang berdiri.
Ika berjalan perlahan-lahan dan dia terkejut. Seorang wanita berpakaian polisi sedang berdiri mematung menatap Ika.
Ika mengenal wanita itu, dia adalah polisi wanita yang memberikan saran kepadanya.
Sari membuka mulutnya dan memperlihatkan lintah besar dan berlendir menggeliat ke kanan dan ke kiri.
"Jadi kau mau aku membunuhmu? Baiklah" gumam Ika.
Ika berjalan perlahan-lahan mendekati Sari. Setelah cukup dekat, Sari memeluk Ika dan mulai mencium Ika.
Lintah yang berada di dalam mulut Sari langsung menghisap lidah Ika. Ika merasakan sesuatu telah dihisap oleh Sari.
Tidak lama kemudian Sari mendorong Ika hingga dia terjatuh. Sari menjerit kesakitan, mulutnya keluar buih dan akhirnya dia tersungkur.
Tubuh Sari yang normal kini berubah menjadi kering hingga ke tulang.
Lintah yang berada di dalam mulut Sari melepaskan diri dan menggeliat menuju ke Ika.
Ika dengan cepat menaburkan semua garam atas lintah monster tersebut dan akhirnya lintah itu mengering dan mati.
Keesokan harinya, isu kematian wanita penghisap tersebar di berbagai macam media. Ternyata wanita penghisap Sari merupakan korban dari wanita penghisap 6 bulan lalu.
Jasad wanita penghisap itu, di temukan di belakang rumah Sari dengan kondisi sudah dimakan oleh semut dan serangga lain.
Apakah teror itu sudah berakhir? Ingat dengan cerita para korban?
Ya, wanita penghisap akan selalu ada selama telur yang berada di dalam tubuh inang barunya memberikan kehangatan.
Ika yang merupakan pahlawan di negeri moderen ini, tidak ada kabar lagi. Seolah-olah dimakan oleh bumi itu sendiri.
Aku yakin, Ika adalah wanita penghisap berikutnya?
Maka berhati-hatilah, hahaha.
Hmm? Kau penasaran siapa aku?
Aku adalah story teller yang memberikan kisah seram padamu.
Namaku? Benar juga.
Kau bisa memanggilku
Mr. SCREAM.
by: Rico Amanda

Creepy and Weird Stuff